Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

Wednesday, January 6, 2016

Staycation Part 2 The 1O1 Hotel Darmawangsa

Cerita tentang servis hotel ini ada di sini ya.

Saya sempat ke Darmawangsa Square (DS) untuk makan. Akses langsung dari hotel melalui lobby utama ke ground floor DS dan 1O1 Cafe ke lantai 1 DS. Ada Ranch Market di DS sehingga nggak perlu khawatir kekurangan makanan dan minuman.

Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.

Suami mengajak untuk cari makan di sekitar DS. Kami pun jalan kaki menuju Pappa Jack dan Redbox, yang ternyata tutup. Suami memutuskan untuk pergi ke Blok M Square dengan naik BAJAJ!

Haduh, udah kece menginap di DS, naik bajaj gas buat cari makan di Blok M Square! Bayar bajaj cukup Rp15 ribu saja karena terbilang dekat ke Blok M Square.

Tiba di Blok M Square, ramai ya. Mumpung libur, di dalamnya sesak! Saya baru pertama kali ke sini dan berniat nggak akan ke sini lagi seumur hidup! Food court aja di lantai 5, ujung-ujungnya makan di Es Teler 77 soalnya resto lain penuh!

You know you've changed to high maintenance when you are no longer comfortable visiting trade center ala ITC or Blok M Square ini. Lebih nyaman mengitari mall seperti GI, PP, PS, Sency, Gancit atau PIM! Ke CBD cuma buat ke Carrefour, itu pun jaraanggg!

Selesai makan tanpa ada minat lihat-lihat di Blok M Square, saya baru menyadari ada Food Fighters Melawai begitu keluar dari Blok M Square. Letaknya persis berhadapan dengan square itu. Kalau begitu, mending makan di sini dari tadi!



Food Fighters ini semacam pecahan pedagang Pasar Santa, yang pindah atau ekspansi ke sini. Ada Mie Chino, Zucker Waffle, Kantin SD, Mexicana yang jual taco, dan lain-lain.

Beware, lokasinya nggak pakai AC, hanya kipas angin menempel di langit-langit dan bebas merokok! Untungnya saat kami ke sana, kondisinya tidak crowded. Sayangnya, hanya sedikit tenant yang buka, mungkin karena masih tahun baruan.

Lagi-lagi desain interiornya unik! Ada mural ala-ala pixelate di dinding, agak industrial dengan mendesain tong minyak menjadi meja.

Saya memesan wafel The Grinch dari Zucker Waffle sedangkan suami order chocolate waffle. Total harganya Rp66 ribu including 10% tax.

Rasanya enak banget! Warm crispy waffle dengan paduan es krim choco mint dan vanilla, ditambah topping mini M&M. Enak deh, sampai es krim lumer belepotan di tangan! Yummy! Sure will be any repeated orders in the future!

Saya kembali ke hotel dengan diantar bajaj. Kali ini argonya Rp20 ribu karena jarak tempuh lebih jauh dibandingkan dengan saat berangkat.

Hari kedua di hotel, saya kembali ke DS untuk makan siang. Sudah banyak tenant yang buka, termasuk Sumpit resto. Saya memesan nasi goreng lada hitam, lumpia Sumpit, dan iced lemon tea. Suami memesan nasi kung pao chicken, tahu goreng dengan bumbu spicy, dan iced lemon tea. Biaya yang kami habiskan sebesar Rp211 ribu.

Sumpit terkenal dengan big portion. Nasgor beef black pepper saya datang dengan ukuran jumbo. Sayangnya not well seasoned karena nggak sepedas atau spicy khas lada hitam yang saya ekspektasikan.

Lumpia Sumpit sih juara ya! Teksturnya seperti cakwe tetapi dense, not airy dan rasa udang banget! Nggak perlu dicocol saus sambal, cukup dengan mayonaise yang disajikan bersama lumpia.

Lucunya, pesanan suami, nasi kung pao chicken wujudnya so so. Nasinya imut, kung pao chicken-nya basah alias kebanyakan kuah. Lebih mirip ayam asam-manis ketimbang kung pao chicken yang hitam pekat, tidak berkuah kental, ada kacang mede, dan cabai kering.

Appetizer tahu goreng-nya malah big portion! Tahunya banyak, dipotong kecil persegi, dengan cacahan bawang putih goreng. Tahunya sih, bukan silky tofu. Jauh lah dari tahu lada garam Imperial Kitchen.

Selebihnya, waktu liburan dihabiskan di kamar hotel: nonton, tidur, makan, repeat! Namanya juga liburan, ya bermalas-malasan ria dong!



Monday, January 4, 2016

Staycation at The 1O1 Hotel Jakarta Sedayu Darmawangsa



Libur Tahun Baru lalu dihabiskan dengan staycation dua malam di Hotel 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa. Saya booking melalui Rajakamar dengan total Rp1,4 juta sudah include breakfast for two. Kamarnya tipe standard yang paling murah.

Sebelumnya, saya sudah booking pada Oktober 2015 dua malam di Artotel Thamrin seharga Rp1,5 juta melalui Traveloka apps. Herannya, semakin mendekati libur tahun baru, tarif kamarnya turun menjadi sekitar Rp600 ribuan sehingga dua malam totalnya Rp1,3 juta.

Saya kesel dong karena merasa dicurangi. Bukannya semakin mendekati hari H menginap, tarif menginap di hotel itu naik ya? Saya browsing hotel lagi, yang lebih kece fasilitas dan harganya. Saya ajukan refund ke Traveloka dan nggak sampai 7 hari kerja, dana saya dikembalikan utuh.

Hotel 1O1 JSD ini berlokasi di Darmawangsa Square, hotelnya menyatu dengan pusat belanja (atau pusat makanan ya?) ini. Saya tiba pukul 3 sore pada 1 Januari 2016. Hotel tampak padat, front desk cukup antri karena peak season.

Lobby hotel luas dan didesain modern minimalis dengan dominasi warna hijau Tosca khas 1O1. Lobby terlihat ramai karena banyak yang menunggu untuk check in.

Saya mengantri sekitar 10 menit. Resepsionis meminta deposit tunai Rp300 ribu atau open card dengan kartu kredit. Saya memilih open card karena cash-nya nggak cukup.

Saat order di Rajakamar, saya request: non smoking room, double bed, dan middle floor. Ternyata, resepsionis menyampaikan tidak ada kamar double bed yang tersedia, adanya twin bed. Padahal saya sudah konfirmasi ulang beberapa hari sebelumnya dan dinyatakan request saya bisa dipenuhi. Mereka beralasan hotel penuh dan permintaan bisa dipenuhi subject to availability. Kamar dengan twin bed bisa disulap menjadi double bed. Saya protes dong!

Kemudian resepsionis kontak melalui HT dengan house keeper. Dari yang saya dengar, ada satu kamar dengan double bed. Dia memberikan access card dengan nomor 1615. Saya girang karena tetap akan tidur di double bed.

Tiba di kamar, hmm.. memang sih kasurnya double bed, yang ternyata twin bed disatukan. Berasa dibohongi nih! Ada kejutan lain, kamar saya memiliki connecting door dengan kamar di sebelah! Hmm.. I think this is not on my request. Connecting door dipastikan terkunci sehingga tidak ada yang bisa mengakses kamar saya.


Well, kamar hotel ini cukup nyaman meskipun hanya ada dua bantal kepala dan dua throw pillow ukuran 45x45. Saya lebih suka hotel yang menyediakan lebih dari empat bantal di kasurnya.

Ada mini bar, water heater, kopi, teh, gula, creamer, complimentary mineral water dua botol, toileteris, hair dryer, handuk, closet, basin, dan shower merek TOTO. Colokan listrik terbilang cukup untuk gadget milik dua orang, ada di setiap sisi tempat tidur.


Saya juga mendapatkan akses WiFi gratis dan quite speedy loh! WiFi bisa diakses di kamar, lobby hotel, dan 1O1 Cafe.

Sayangnya, kamar hotel tidak sound proof. Saya bisa mendengar jelas bunyi orang berjalan, berbicara, suara pintu ditutup, suara orang sedang plug in sesuatu ke colokan listrik, bahkan suara orang mengetuk pintu dari kamar di lantai atas kamar saya.

Tibalah saat sarapan. Sesi sarapan ini penting bagi saya dan suami untuk menilai hospitality dan kualitas hotel ini. Saya dan suami turun sarapan pukul 06.30 pagi karena khawatir restoran 1O1 Cafe yang terletak di lantai 1 akan crowded jika di atas pukul 7 pagi.


Ternyata, resto masih sepi dan hanya beberapa meja yang terisi. Menu sarapan sudah tersaji lengkap: omelete, bubur ayam, mie ayam, sereal, miso soup, salad bar, pasty and bread, baked beans, hashbrown, sosis, mie goreng, nasi goreng, dan lain-lain. Minumnya ada aneka jus, coffee, tea, yakult, dan yogurt.

Hari kedua, menu sarapan berganti, seperti vegetable clear soup, potato pom-pom, dan sosis ayam.

Rasa makanannya cukup enak. Sayangnya, hampir semua makanan disajikan dalam kondisi dingin kecuali miso soup, vegetable clear soup, omelete, dan baked beans. Sayang sekali padahal sudah disajikan di atas kompor elektronik, yang ternyata nggak bikin makanan hangat sama sekali.

Di lantai yang sama, terdapat Terraza Lounge dan kolam renang. Lounge ini konsep indoor dan outdoor, menawarkan aneka minuman beralkohol. Kolam renangnya swim-able sih, cuma nggak terlalu luas dan bukan infinity pool. Coba kolam renang diposisikan di lantai yang lebih tinggi, pasti akan lebih menarik view-nya.




Saya sempat ke Darmawangsa Square (DS) untuk makan. Akses langsung dari hotel melalui lobby utama ke ground floor DS dan 1O1 Cafe ke lantai 1 DS. Ada Ranch Market di DS sehingga nggak perlu khawatir kekurangan makanan dan minuman.

Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.

Overall, saya puas menginap di Hotel 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa ini. Worth the money I paid. Hanya perlu perbaikan kecil pada kamar yang belum sound proof dan kehangatan makanan sarapan.



Monday, August 3, 2015

Weekend getaway: Lembang floating market



Saat libur lebaran bulan lalu, saya mengajak mertua & adik-adik ipar berlibur ke Bandung untuk dua malam. 

Kami berangkat pada lebaran H+3 dengan mobil Avanza sewaan, sekitar pukul 12 siang. Jalanan cukup lancar, tidak semacet yang diperkirakan. Kepadatan lalin terasa begitu exit tol Pasteur, wajar sih ya. 

Kami menginap di Vio Hotel, Jalan Westhoff, Bandung. Lokasinya strategis, dari tol Pasteur lurus aja menuju Jalan Sukajadi, tetapi tidak melalui jembatan layang Pasopati. Dari hotel, tidak terlalu jauh ke PVJ, Cihampelas Walk, dan Pasir Kaliki. 

Berbekal wazed, dari Alun-Alun Bandung menuju Lembang floating market hanya kurang dari satu jam. Kami tiba di sana pukul 09.00 pagi dan parkiran hampir penuh. Ternyata floating market buka sejak pukul 08.00 pagi. 

Tiket masuk Rp15.000 per orang sedangkan biaya masuk mobil Rp10.000. Tiket masuk termasuk segelas minuman dingin atau hangat. 

Sebelum masuk, lebih baik menukarkan uang dengan koin, yang digunakan sebagai alat pembayaran di area floating market. Koinnya terdiri dari nominal Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000. Selain di pintu masuk, di dalam area juga terdapat beberapa loket penukaran koin dengan antrian yang masih acceptable. 

Masuk ke area Lembang floating market, terdapat kolam buatan luas sehingga kawasan ini menyerupai letter O. Pengunjung akan diajak mengitari area taman, saung, dan kandang angsa, sebelum memasuki area food court. 

Sebagai orang yang pernah melihat langsung floating market di Bangkok, saya penasaran dong, mana sih yang mengambang? Karena di tengah kolam enggak ada apa-apa yang mengapung. Ternyata, yang mengapung adalah kios-kios penjual makanan dan minuman. Jadi, kiosnya berupa perahu kecil yang mengapung di pinggir area tempat makan. 

Harganya? Sangat terjangkau dan masih realistis, mengingat umumnya harga makanan di kawasan wisata suka enggak wajar. 

Saya jajan cireng isi oncom, harganya Rp10.000 dapat lima buah cireng. Kangen dengan lumpia basah, yang biasa dicicipi di gerbang kampus Unpad Jatinangor, di sana dijual Rp10.000 seporsi. Ingin minum yang seger-seger tapi ngga overly sweet? Ada air tebu segelas Rp10.000. 




Makanan apa aja? Banyak dan beragam! Rasanya ingin beli semua! Yang jelas jajanan khas Jawa Barat ya. Gila ya, jauh-jauh ke Lembang buat jajan dan banyak peminatnya! 

Selain wisata kuliner, kita bisa main air di sini. Maksudnya ada beberapa wahana terapung di kolam floating market, seperti canoe-ing, bebek-bebekan yang diayuh pake kaki, dan lainnya. Harga tiket mulai dari Rp50.000 per wahana dan bayarnya pakai koin juga ya. 

Kami berada di sana sekitar 2,5 jam, pulangnya menjelang jam makan siang. Pas turun, macet banget! Macetnya dari Sukajadi untuk menuju Lembang. Kami pun juga tersendat sejak di kampus UPI Bandung sampai Sukajadi. 

Tips ke Lembang floating market: 
berangkat pagi ketimbang jelang makan siang, pasti terjebak macet dan kesulitan dapat parkir. Kosongkan perut karena banyak jajanan enak dengan harga terjangkau.

Friday, June 12, 2015

Bali Green Run: The 13K that Devastated Us

"Lari marathon 13 kilo tanpa persiapan maksimal, you just chose to kill yourself"
Akhir bulan lalu, kami nekad ikut event lari marathon yang diselenggarakan Astra International Tbk. Soalnya event Bali Green Run, Astra Green Lifestyle berbarengan dengan trip kami di Bali. Sekalian aja, having fun lari-larian di Bali.

Marathon ini berlangsung di Elephant Safari Park & Lodge, Desa taro, Tegallalang, Ubud, Bali. Awalnya kami berpikir, seluas apa sih taman gajah ini sehingga rute larinya sampai 13 km?

Selain 13K, juga ada lari rute 6K yang mungkin lebih sesuai dengan kami. Sayang, keburu sold out dan kebagiannya yang rute panjang.

Berangkatlah kami dari Jakarta menuju Bali lengkap dengan sepatu olahraga, pakaian, dan handuk kecil. Meskipun ngga ada persiapan untuk ikut lari 13 km.

Minggu (31/5) pukul 06.00 pagi, kami dijemput driver Bli Wayan, driver baik hati yang baru didapat pukul 8 semalam. Bawa mobilnya ngebut karena jalanan masih sepi.

Pillow face sebelum lari 13K

Kami tiba di Elephant Safari Park & Lodge 1,5 jam kemudian. Sebenarnya, panitia juga menyediakan shuttle tetapi meeting point-nya di Sanur dan Ubud, cukup jauh dari hotel kami di Kuta. Kami memilih menyewa mobil supaya lebih leluasa singgah ke mana aja.

Marathon ngga lengkap tanpa racepack. Kami diberi racepack berisi kaos Bali Green Run 2015 dari Reebok, chip pencatatan waktu ChampionChip, buku panduan Lomba, botol Minum 700ml, dan souvenir dari sponsor lain. Para pelari juga dilindungi oleh asuransi Astra Life.

Ini adalah event lari pertama yang saya dan suami ikuti. Suami sebenarnya sporty banget tetapi lama-lama ketularan malesnya saya, hehehe. 

Kami mulai lari pukul 08.10, awalnya sih lari beneran selama beberapa menit. Lama-lama berakhir dengan jalan kaki, hahaha.

Sepanjang rute lomba 13,3K, medannya amit-amit bener karena bukan merupakan track yang lurus mulus kayak jalan tol Cikapali. Ini mah lari lintas alam karena harus naik-turun bukit, jalan di pematang sawah, masuk ke hutan, capek deh!

Beberapa kali saya ingin menyerah dan diangkut mobil medis saja. Tetapi, suami tercinta terus menyemangati bahwa kami mampu mencapai garis finis. Bahkan dia menggandeng sekaligus menyeret saya saat melewati medan tanjakan curam, hehehe. He's a very supportive husband :")

Water station pertama terletak menuju kilometer ke-3. Panitia menyediakan air mineral dan Pocari Sweat dalam gelas-gelas kecil. Segelas ngga cukup untuk minuman isotonik, boleh nambah lho!

Serunya, rute yang kami tempuh menawarkan pengalaman lari yang tidak biasa. Kami melewati beberapa lokasi khas setempat dan disambut oleh atraksi warga sana.

Ada Banjar Taro Kaja, Pura Agung Gunung Raung, Banjar Puakan, Hutan Binaan Astra, Pura Dalem, Banjar Pakuseba, dan obyek wisata Lembu Putih. 


Tetapi, karena takut tertinggal dan disalip peserta lain, saya nggak foto-foto selama lari, eh jalan kaki. 

Akhirnya, kami mencapai garis finis setelah berjalan kaki selama 3 jam 7 menit! What a long long lame lame journey! Bahkan, kami papasan dengan peserta yang udah selesai. Kami aja belum capai finis, mereka udah santai pulang.

Sampai finis, untung masih ada panitia. Saya kira mereka udah mulai beresin tenda, hahaha. Saya tetap disambut meriah, disalami mas-mas bule nan jangkung, dikasih air minum, pisang, dan dikalungi medali. YAY!!!!

YAY! Berhasil, berhasil, HOREEEE!

Suami dan medali perdana

I nailed it!
Setelah istirahat cukup, maksudnya menstabilkan lutut yang gemetaran, betis yang ngilu, dan paha yang tegang, kami menuju Elephant Safari Park & Lodge untuk santap siang.

Elephant Safari Park Lodge adalah salah satu tujuan wisata edukasi di Ubud. Suasananya hijau dan rimbun karena banyak pohon. Kami pun berjumpa gajah yang sedang mengangkut pengunjung di punggungnya. Mereka berjalan menyusuri kolam besar atau di sekitar taman.

Kami bisa foto bareng gajah meskipun tidak beli tiket untuk elephant ride. Soalnya HTM lumayan, sekitar Rp200ribuan untuk safari ride. 


Kami makan siang di Park Restaurants, yang berdesain seperti rumah panggung. Konsepnya buffet, sayangnya less appetizing bagi saya. Menunya ayam, ikan, sup, salad, nggak ada daging sapinya. Saya cuma makan sedikit karena menunya nggak menarik itu. 




Overall, event Bali Green Run as part of Astra Green Lifestyle sangat menyenangkan. Meskipun oleh-olehnya rasa pegal luar biasa. Hats off to Astra, Astra Life, Reebok, Planet Sports, dan Pandara Sports atas event melelahkan ini.

Saya semakin sayang suami karena dia sosok yang tidak mudah menyerah, kooperatif, suportif, dan optimistis. Tanpa suami, saya belum tentu finis 13,3K karena baru 3 km, saya pengen nyerah.


Wednesday, June 10, 2015

Munching time in Bali


Setiap jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, saya biasanya mengusahakan mencicipi kuliner khas wilayah tersebut. Meskipun kadang main aman juga, seperti makan di well known fast food chains yang tentu halal. 

Malam pertama di Bali, kami kelaparan dan begitu melihat sign board KFC di depan Kutabex, Pantai Kuta langsung masuk ke sana. Padahal KFC terdekat ada di sekitar Kuta Square, tidak jauh dari hotel. 

Menu andalan saya di KFC adalah Oriental Bento yang murmer 10 ribuan aja. Bukan hanya murah, tetapi enak banget nasi dan potongan boneless chicken bersaus oriental. Suami biasanya pesan paket ayam, nasi, dan soft drink.

What's for dessert? Ternyata di depan KFC ada gerobak atau mini stall ice cream sandwich. Namanya Masterr Singapore Ice Cream. Padahal selama ini SG identik dengan es potong diselipin di selembar roti tawar.

Ada dua size, small size sekitar Rp17 ribu sedangkan large size Rp27 ribu. Yang small itu bite size banget, sekali makan langsung hap! Saya pilih yang large dengan harapan bisa berbagi dengan suami.

Saya pesan rasa double chocolate dan datanglah ice cream sandwich padat dengan lapisan es krim coklat cukup tebal. Sayang, cookies-nya nggak berasa coklat, just regular cookies rasa vanilla. Padahal double chocolate katanya. 



Rasa es krim coklatnya juga biasa, tidak terlalu istimewa tetapi ngga bikin gigi ngilu saat digigit. Variasi rasanya lumayan banyak tetapi untuk bite size tidak semua flavor tersedia. 

Hari gini, gak ke Bali namanya kalau belum menyantap nasi pedas. Tentu yang terkenal banget adalah nasi pedas Ibu Andika. Tahun lalu, kami sudah pernah mencoba nasi pedas Ibu ini di kios Patih Jelantik. Bahkan, sempat bersua beberapa seleb yang juga makan di sana.

Buka apps Waze, ternyata lokasi nasi pedas Ibu Andika tidak jauh dari hotel. Tampaknya bisa dijangkau berjalan kaki. 

Tetapi, di tengah jalan kami melihat ada warung nasi pedas Ibu Hanif. Kok familiar ya namanya. Suami pun mengusulkan untuk mencoba makan di sana, keburu laper dan masih perlu jalan lagi untuk ke bu Andika.

Lokasinya di pelataran toko yang sudah tutup di Pasar Kuta, persis di seberang Minimart, pojokan jalan Raya Kuta. 



Menunya mirip warteg, tinggal pilih mana yang suka. Saya memilih tumis kangkung, sambal goreng ati-kentang, dan telur balado. Untuk menu tersebut, saya hanya membayar Rp13 ribu. 

Makan berdua dengan suami ditambah dua teh botol dan kerupuk, sekitar Rp30 ribuan. Mursidah bener, cyin!

Rasanya endeuuss dan pedasnya manusiawi untuk lidah orang Minang! Sayur dan lauk-pauknya terasa fresh dan bumbunya pas. 

Lihat review lain nasi pedas Ibu Hanif di CumiLebay dan Aline.



Saat jalan-jalan seharian di Bali Timur, saya sempat bingung nyari tempat makan siang. Atas rekomendasi driver, kami diantar ke Balissa Bar & Restaurant yang terletak di jalan raya Pantai Candidasa.

Well, harganya standar lokasi wisata sih, agak di atas harga normal. Seporsi nasi campur dan nasi goreng ayam harganya Rp40 ribuan. Ice lemon tea sekitar Rp20 ribuan. Pokoknya, kami menghabiskan sekitar Rp170 ribuan makan siang di sini, tanpa dessert.

Saat di sana, hanya kami tamu domestik yang santap siang. Selebihnya adalah turis bule. Untungnya pelayannya ramah dan sempat basa-basi bertanya asal daerah kami.

Nasi campur datang tanpa sate lilit, kecewa sih. Soalnya nasi campur identik dengan sate lilit. Sambal matahnya enak, fresh banget, tetapi porsi sambalnya sedikit. Kemudian ada potongan tahu bergulai, eh ternyata itu adalah potongan ikan. Mbuh ikan apaan, saya ngga doyan.



Makan masakan Sunda di Bali? Silahkan datang ke Pawon Pasundan, yang berlokasi di Jl. Kediri, Tuban, Kuta. Lagi-lagi atas rekomendasi driver Bapak Ngurah. Beliau bilang kalau masakan Sunda Pawon Pasundan beda dari yang lain. Sambalnya uenak tenan!





Kami pun memesan paket nasi timbel berlauk empal daging dan ayam seharga Rp40 ribuan. Datanglah sekeranjang nasi timbel dalam gulungan daun pisang, empal daging, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Sambalnya disajikan dalam piring kecil, porsinya melimpah, jadi nggak khawatir kehabisan sambal. Nasi timbel ngga lengkap tanpa sayur asem seporsi mangkuk kecil. 

Saat dicicipi, rasanya segeerrr! Semuanya terasa pas, baru kali ini makan sayur asem restoran yang enak menyegarkan. Tentu dong, sayur asem buatan mama tetap nomor satu.



Minumnya pesan teh manis hangat sedangkan dessert pisang bakar. Pisang bakarnya juga enak, pisangnya dengan tingkat kematangan pas, lembut, dan disiram gula merah cair. 



Makan berdua cukup Rp130 ribuan aja, bandingkan dengan makan siang di kawasan wisata siangnya.

Malam terakhir di Bali, sehabis Balinese massage di Smart Spa & Massage, Kuta, saya jajan satu scoop chocomint gelato seharga Rp15 ribu. Lebih murah dibandingkan pedagang yang berjualan persis di pantai Kuta Rp20 ribu per scoop.






Tuesday, June 9, 2015

Exploring the Eastern Bali Part 2


Untuk part 1, baca di sini ya.

Tujuan kami berikutnya adalah Taman Soekasada Ujung yang terletak di Karangasem. Berkat googling dan menemukan foto-foto bangunan indah di tengah kolam dan kuil bekas terbakar yang eksotis, saya memantapkan diri untuk mengunjungi taman ini.

Driver yang mengantar kami sampai bilang, baru kali ini dia mengantarkan turis ke tujuan wisata ini. Taman Soekasada Ujung ini merupakan tempat leyeh-leyeh Raja Karangasem. Makanya dibuat asri banget dengan kolam dan taman yang rimbun. 

Ruang beristirahat Raja ini dihubungkan oleh dua jembatan yang membelah danau. Jembatannya artsy banget, IG material deh.





Selain bangunan peristirahatan kerajaan, ada bangunan semacam kuil mirip Pantheon Yunani tetapi looked abandoned. Kita harus menaiki anak tangga dari sekitar bangunan peristirahatan, yang cukup tinggi dan curam. 

Sebenarnya ada shortcut menuju kuil tersebut, berupa pintu gerbang yang terletak jauh sebelum gerbang utama. Nah, pas kami ke sana, kebetulan pintu gerbang terbuka karena ada pasangan yang foto prewed di sana.

Belum puas, pengen foto-foto lagi, saat pulang gerbangnya malah digembok. Kalau mau naik tangga, ogah balik lagi.




HTM: Rp10.000 (dewasa)

Selanjutnya, kami menuju Tirta Tangga atau taman air yang masih berkaitan dengan Taman Soekasada Ujung Kerajaan Karangasem. Tempatnya seperti taman dengan air mancur dan kolam-kolam besar berair jernih. Banyak ikan koi sebagai penghuni kolam.

Serunya, ada semacam pijakan untuk melewati kolam. Jangan takut jatuh karena pijakannya kokoh sampai ke dasar kolam. Awas oleng aja sih, hehehe.

Selokannya saja dialiri air jernih, bisa banget buat rendam kaki di sana. Ada juga kolam untuk berenang dengan tiket masuk Rp10 ribu untuk dewasa.








HTM: Rp10.000 (dewasa turis domestik)

Last stop adalah pantai Candidasa, yang sebenarnya sudah kami lewati saat menuju Desa Tenganan. Sayangnya ngga bisa melihat sunset tetapi kami cukup senang bisa menghirup aroma pantai dan duduk-duduk di sana.




Monday, June 8, 2015

Exploring the Eastern Bali Part 1


Ke Bali? Bosen ngga sih bagi saya yang sudah dua kali ke Pulau Dewata. Apalagi suami yang berkali-kali ke Bali dalam rangka liputan maupun outing kantor.

Tetapi, saat depresiasi rupiah terus-menerus berlangsung, wisata domestik menjadi pilihan utama. Dollar Singapore udah 10 ribu rupiah aja per SGD! Apalagi HKD, pupus sudah impian mau berkunjung ke Disneyland Hong Kong pada tahun ini. 

Kami harus berhemat dan memilih tujuan berlibur yang masih terjangkau dan tidak terbebani selisih kurs yang tinggi. Jadilah kami memilih Bali, booking hotel dan penerbangan sejak April, menghabiskan dana sekitar Rp4,5 juta untuk tiket PP AirAsia untuk dua orang dan 4D3N di favehotel Kuta Square.

Kali ini, kami mengeksplor Bali sebelah timur yang memiliki beberapa tujuan wisata. Bosen ngga sih ke Tanah Lot, Uluwatu nonton kecak, Pura Ulundanu, Dreamland, dll? Makanya saya memilih Bali Timur yang belum, kayaknya sih ya, dikunjungi wisatawan.

First stop, kami bertandang ke Kabupaten Klungkung. Bersama Bapak Ngurah, driver yang mengantar kami berwisata, kami mencapai Klungkung dalam 1,5 jam. Apa yang kami temui di kabupaten ini? Kerta Gosa, komplek kerajaan Klungkung, yang memiliki desain arsitektur yang menarik.

Kerta Gosa terdiri dari dua bale, Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Bale Kerta Gosa berupa bangunan tinggi dengan ukiran dan lukisan di langit-langitnya, serta terdapat kursi dan meja tempat perundingan keadilan.

Adapun, Bale Kambang terletak mengapung di atas kolam yang dipenuhi teratai. Bale Kambang ini yang membuat kompleks kerajaan ini terlihat cantik dan menawan.

Selain itu, ada Museum Semarajaya di lokasi yang sama. Museum ini memamerkan koleksi sejarah terkait Kerajaan Klungkung. Cukup menarik untuk diintip sambil mendengar musik khas Bali.

HTM: Rp12.000 (dewasa)





Selanjutnya kami menuju Pura Goa Lawah, Pasinggahan, Kab Klungkung. Bali memang punya banyak pura tetapi hanya pura ini yang diinapi kelelawar. Pura ini terletak di sebuah gua yang dipenuhi oleh kelelawar. Kebetulan pada Senin (1/6) lalu, umat Hindu di Bali tengah berdoa untuk malam Purnama sehingga mereka sembahyang di pura tersebut.

Pengunjung wajib memakai sarung yang disewa di loket tiket. Ada juga jasa pemandu dengan tarif sukarela. Pergerakan pengunjung juga dibatasi, tidak boleh masuk ke dalam gua hanya di area luar. Tetapi, kelelawar penghuni gua terlihat dengan jelas.

Di seberang Pura Goa Lawah, terdapat pura di tepi pantai. Pantainya bisa dikunjungi tetapi terkesan biasa saja dibandingkan dengan Pantai Dreamland. Mirip pantai Kuta dengan pasir hitam. Malah pantainya terkesan kotor karena sesajen ditaburkan di sana.

HTM: Rp10.000 (dewasa, termasuk sewa kain sarung)





Setelah Pura Goa Lawah, kami menuju ke Desa Tenganan, Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa ini disebut sebagai desa Bali asli, didiami oleh penduduk asli Bali dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Desa Tenganan akhirnya menjadi tujuan wisata yang menarik minat wisman.

Saat kami ke sana, suasana desa cenderung sepi karena tidak ada atraksi, seperti yang terpampang di spanduk pintu masuk. Mana cuaca terik bener dan tidak ada pepohonan rindang. Warga desa juga tidak tampak, mungkin memilih ngadem di dalam rumah.

Di beberapa rumah warga, terdapat meja yang berisi pajangan telur yang sudah dihias dan ukiran di bilahan bambu. Ada juga yang menawarkan kain double ikat atau kain khas Tenganan, yakni kain gringsing.

Desa Tenganan menanjak ke atas, berundak-undak dengan tanjakan beralas bebatuan. Siap-siap pegel dan ngos-ngosan. Di tengah jalan desa, ada satu bangunan kayu menarik mirip kincir. Eh ternyata itu adalah ayunan, bukan pajangan hiasan desa. Ekstrim bener, lihat aja gambar di bawah ini.

HTM: bayar seikhlasnya