Monday, January 12, 2015

Your JOB exposed

Jumat (9/1), Bloomberg TV Indonesia mengundang sosok di balik penyedia lowongan kerja online Jobstreet.com Indonesia. Honestly, saya penasaran dengan cara kerja market leader di industri ini.

Ibu Faridah Lim sebagai Country Manager Jobstreet.com Indonesia bersedia hadir ke studio, membahas seluk-beluk pencari kerja dan bisnis penyedia lowongan kerja online.

Dari percakapan saya dengan beliau, ternyata persentase terbesar member Jobstreet.com bukanlah fresh graduate melainkan exprienced employee. Orang-orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap tetapi masih ingin mencari pekerjaan yang lebih baik (better salary, better opportunity, dan better-better lainnya).

Oleh karena itu, job fair yang membludak tidak melulu mencerminkan tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Menurut Bu Faridah, justru pengunjung job fair kebanyakan sudah bekerja, hanya ingin liat-liat peluang yang lebih baik.

Fakta lain yang diungkapkan Bu Faridah adalah para first jober yang gampang goyah menjalani pekerjaan pertamanya. Mereka ini adalah fresh graduate yang berprinsip "Yang penting gue kerja aja dulu" alias ngga milih-milih pekerjaan dan melamar ke jenis pekerjaan apapun. 

Sayangnya, yang tipe begini biasanya ngga bertahan lama di kerjaannya tersebut. Alasan klasiknya, kerjaan ngga asik, ngga cocok dengan bos atau mengincar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Lamanya bekerja bisa hitungan minggu, bulan, intinya less than 1-2 years. Inilah problem yang dihadapi perusahaan, mencari pegawai dengan loyalitas tinggi pada masa kini.

Tetapi, di satu sisi, fresh graduate itu lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan experienced job seeker. Mereka biasanya melamar untuk management trainee.

Sektor yang menjadi incaran para member Jobstreet.com Indonesia antara lain: perbankan, manufaktur, ritel, consumer goods, dan properti. 

Tampaknya, media ngga favorit ya meskipun banyak perusahaan media membuka lowongan kerja melalui Jobstreet.com.

Failed job recruitment
Siapapun pasti mengalami kegagalan setelah menjalani sesi wawancara kerja atau tidak lanjut ke tahap berikutnya. I failed like more than five times, like seriously. Depressed? Oh sure, apalagi failed melamar pekerjaan yang diidamkan banget. Sulit rasanya menerima kegagalan.

Tetapi, Bu Faridah membukakan mata saya bahwa kegagalan melamar kerja tidak berarti diri kita jelek. Dia menjelaskan, seseorang bisa gagal diterima kerja di suatu perusahaan karena dua faktor.

Pertama, kualifikasi pelamar tidak sesuai dengan profil perusahaan. Misalnya, pelamar lulusan luar negeri dinilai high profile bagi perusahaan yang domestic oriented.

Kedua, pelamar overqualified. Agak mirip lah dengan ketidakcocokan dengan profil perusahaan. Entah minta gaji ketinggian, pengalaman kerja yang terlalu "wow" bagi perusahaan tersebut.

Dari obrolan tersebut, saya jadi sadar bahwa kegagalan memang bukan akhir dari segalanya. Apalagi gagal diterima kerja di perusahaan idaman. Move on, cari perusahaan lain yang menghargai kita dengan layak.

PS: 
Saya mendapatkan pekerjaan profesional pertama kali melalui Jobstreet.com. November 2010, saya bergabung sebagai calon reporter di harian ekonomi Bisnis Indonesia. Saya bekerja di sana selama hampir 2,5 tahun.