Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Friday, May 24, 2019
Ramadan Staycation di Best Western Premier The Hive - Jakarta
Bulan Ramadan staycation di hotel? Kenapa engga? Ini merupakan pengalaman perdana saya menginap di hotel saat bulan puasa. Ternyata, seru juga dan nggak kalah dibandingkan staycation pada hari biasa.
Friday, January 5, 2018
Staycation di Yello Hotel Harmoni
Saat libur Natal beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk staycation di salah satu hotel hits Yello Hotel yang berlokasi di Harmoni, Jakarta Pusat. Hotel bintang tiga ini mendapatkan rating 9 di Traveloka. Saya penasaran dong, dengan rate mulai dari Rp500 ribuan, sebagus apa hotel ini sampai diganjar rating 9 oleh pengguna Traveloka?
Wednesday, June 8, 2016
#IndonesiaSSP Crowd Favorite
| Pict source here |
Kami berpikir "beli dulu saja tiketnya daripada kehabisan seperti tahun lalu," dan berharap setidaknya ada satu wakil Indonesia yang bertanding di laga final pada Minggu, 5 Juni lalu.
Ini adalah kali pertama saya menyaksikan langsung final Indonesia Super Series Premier di Istora Senayan. Saya dan suami selalu menonton siaran rangkaian turnamen Badminton World Federation series ini melalui siaran televisi.
Hingga Sabtu (4/6) hanya tersisa Ihsan Maulana Mustofa dari tunggal putra Indonesia. Ihsan yang belum masuk 10 besar peringkat dunia harus bertempur mengamankan satu spot final. Pesimistis, Ihsan berjumpa dengan peringkat dua dunia, yakni Dato' Lee Chong Wei.
Sudah diduga Ihsan kalah melawan LCW. Dato' Wei melenggang ke final berjumpa dengan Jan O Jorgensen, tunggal putra asal Denmark dan peringkat lima dunia. Semoga masih ingat, Jorgensen adalah salah satu kontributor poin yang membuat Denmark memupuskan harapan Indonesia memboyong Thomas Cup 2016.
Menurut suami, venue tidak terisi penuh. Masih terlihat jelas ada spot kosong bahkan EO masih menjual tiket on the spot. Bisa saja hal ini terjadi karena tidak adanya perwakilan Indonesia melaju ke final.
Lantas siapa yang didukung para penonton yang mayoritas orang kita? Ya para atlet asing yang bertanding itu. Tetapi, tentu saja ada atlet yang menjadi crowd favorite.
Pada laga women's doubles, penonton lebih menyuarakan dukungan kepada pasangan China Tang Yuanting dan Yu Yang ketimbang pasangan Misaki Matsutomo dan Ayaka Takahashi. Apa daya, Misaki & Ayaka yang memang peringkat satu dunia, yang menjadi juara.
Yang paling menarik dan tentunya paling heboh adalah laga men's singles LCW dan Jorgensen. LCW menjadi crowd favorite dibandingkan dengan Jorgensen. Padalah LCW mengalahkan pemain Indonesia pada semifinal, kemudian asalnya dari Malaysia, yang hubungan diplomatiknya on-off dengan Indonesia.
Jorgensen yang baru saja berjasa membawa Denmark menang Thomas Cup untuk pertama kali, sering dicemooh penonton. Cibiran dan seruan "huuuuu" menggema setiap Jorgensen melakukan smash. Pendukung Jorgensen juga ketiban sial. Sekumpulan mbak-mbak atau dedek-dedek yang setia menggaungkan namanya juga disoraki. Ciyan bener, hehehe.
Crowd berseru "Eaa" ketika LCW melakukan smash dan langsung berubah "Huuuuu" ketika giliran Jorgensen yang smash.
Suami saya menimpali "Masih kesel gara-gara Denmark, Indonesia kalah di Thomas Cup". Crowd seakan tidak rela melihat Jorgensen menang di ajang ini. Bak luka yang menganga, belum sembuh pula, akan semakin perih ditaburi garam #apasih.
Publik bersorak-sorai ketika LCW yang menang. The mission's accomplished! Tetapi, saya menjadi respect dengan Jorgensen. Meskipun kecewa karena kalah, dia dengan rendah hati menghampiri LCW untuk mengucapkan selamat dan minta bertukar jersey. Wow, histeris dong pas liat langsung tubuh Jorgensen yang sixpack dan tatoan.
Sebelumnya, Jorgensen juga kalah di negara LCW pada Malaysia Open 2016. Mungkin ini ibarat pertandingan perpisahan karena LCW kabarnya akan "gantung raket" setelah Olimpiade mendatang.
Giliran men's doubles, giliran cewek-cewek yang kecentilan karena ada mas-mas bermata sipit dan berotot siap memanjakan mata. Bisa ditebak, pasangan asal Korea Selatan, Lee Yong-dae dan Yoo Yeong-seong yang dielu-elukan karena wajah menawan mereka.
Crowd pun berseru "Dae han mingguk" untuk Lee & Yoo. Berkat dukungan fans lokal, Lee & Yoo berhasil menang untuk pertama kali sepanjang tahun ini.
Kami pun mengagendakan event ini menjadi agenda wajib tahunan ke depannya. Saya selalu ingin berjumpa para atlet tangguh mancanegara ini. Saya suka mencermati permainan bulu tangkis tunggal putri dari Thailand, Ratchanok Intanon dan Nozomi Okuhara dari Jepang. Sayang, tidak berjumpa mereka di final.
Wednesday, January 6, 2016
Staycation Part 2 The 1O1 Hotel Darmawangsa
Cerita tentang servis hotel ini ada di sini ya.
Saya sempat ke Darmawangsa Square (DS) untuk makan. Akses langsung dari hotel melalui lobby utama ke ground floor DS dan 1O1 Cafe ke lantai 1 DS. Ada Ranch Market di DS sehingga nggak perlu khawatir kekurangan makanan dan minuman.
Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.
Suami mengajak untuk cari makan di sekitar DS. Kami pun jalan kaki menuju Pappa Jack dan Redbox, yang ternyata tutup. Suami memutuskan untuk pergi ke Blok M Square dengan naik BAJAJ!
Haduh, udah kece menginap di DS, naik bajaj gas buat cari makan di Blok M Square! Bayar bajaj cukup Rp15 ribu saja karena terbilang dekat ke Blok M Square.
Tiba di Blok M Square, ramai ya. Mumpung libur, di dalamnya sesak! Saya baru pertama kali ke sini dan berniat nggak akan ke sini lagi seumur hidup! Food court aja di lantai 5, ujung-ujungnya makan di Es Teler 77 soalnya resto lain penuh!
You know you've changed to high maintenance when you are no longer comfortable visiting trade center ala ITC or Blok M Square ini. Lebih nyaman mengitari mall seperti GI, PP, PS, Sency, Gancit atau PIM! Ke CBD cuma buat ke Carrefour, itu pun jaraanggg!
Selesai makan tanpa ada minat lihat-lihat di Blok M Square, saya baru menyadari ada Food Fighters Melawai begitu keluar dari Blok M Square. Letaknya persis berhadapan dengan square itu. Kalau begitu, mending makan di sini dari tadi!
Food Fighters ini semacam pecahan pedagang Pasar Santa, yang pindah atau ekspansi ke sini. Ada Mie Chino, Zucker Waffle, Kantin SD, Mexicana yang jual taco, dan lain-lain.
Beware, lokasinya nggak pakai AC, hanya kipas angin menempel di langit-langit dan bebas merokok! Untungnya saat kami ke sana, kondisinya tidak crowded. Sayangnya, hanya sedikit tenant yang buka, mungkin karena masih tahun baruan.
Lagi-lagi desain interiornya unik! Ada mural ala-ala pixelate di dinding, agak industrial dengan mendesain tong minyak menjadi meja.
Saya memesan wafel The Grinch dari Zucker Waffle sedangkan suami order chocolate waffle. Total harganya Rp66 ribu including 10% tax.
Rasanya enak banget! Warm crispy waffle dengan paduan es krim choco mint dan vanilla, ditambah topping mini M&M. Enak deh, sampai es krim lumer belepotan di tangan! Yummy! Sure will be any repeated orders in the future!
Saya kembali ke hotel dengan diantar bajaj. Kali ini argonya Rp20 ribu karena jarak tempuh lebih jauh dibandingkan dengan saat berangkat.
Hari kedua di hotel, saya kembali ke DS untuk makan siang. Sudah banyak tenant yang buka, termasuk Sumpit resto. Saya memesan nasi goreng lada hitam, lumpia Sumpit, dan iced lemon tea. Suami memesan nasi kung pao chicken, tahu goreng dengan bumbu spicy, dan iced lemon tea. Biaya yang kami habiskan sebesar Rp211 ribu.
Sumpit terkenal dengan big portion. Nasgor beef black pepper saya datang dengan ukuran jumbo. Sayangnya not well seasoned karena nggak sepedas atau spicy khas lada hitam yang saya ekspektasikan.
Lumpia Sumpit sih juara ya! Teksturnya seperti cakwe tetapi dense, not airy dan rasa udang banget! Nggak perlu dicocol saus sambal, cukup dengan mayonaise yang disajikan bersama lumpia.
Lucunya, pesanan suami, nasi kung pao chicken wujudnya so so. Nasinya imut, kung pao chicken-nya basah alias kebanyakan kuah. Lebih mirip ayam asam-manis ketimbang kung pao chicken yang hitam pekat, tidak berkuah kental, ada kacang mede, dan cabai kering.
Appetizer tahu goreng-nya malah big portion! Tahunya banyak, dipotong kecil persegi, dengan cacahan bawang putih goreng. Tahunya sih, bukan silky tofu. Jauh lah dari tahu lada garam Imperial Kitchen.
Selebihnya, waktu liburan dihabiskan di kamar hotel: nonton, tidur, makan, repeat! Namanya juga liburan, ya bermalas-malasan ria dong!
Saya sempat ke Darmawangsa Square (DS) untuk makan. Akses langsung dari hotel melalui lobby utama ke ground floor DS dan 1O1 Cafe ke lantai 1 DS. Ada Ranch Market di DS sehingga nggak perlu khawatir kekurangan makanan dan minuman.
Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.
Suami mengajak untuk cari makan di sekitar DS. Kami pun jalan kaki menuju Pappa Jack dan Redbox, yang ternyata tutup. Suami memutuskan untuk pergi ke Blok M Square dengan naik BAJAJ!
Haduh, udah kece menginap di DS, naik bajaj gas buat cari makan di Blok M Square! Bayar bajaj cukup Rp15 ribu saja karena terbilang dekat ke Blok M Square.
Tiba di Blok M Square, ramai ya. Mumpung libur, di dalamnya sesak! Saya baru pertama kali ke sini dan berniat nggak akan ke sini lagi seumur hidup! Food court aja di lantai 5, ujung-ujungnya makan di Es Teler 77 soalnya resto lain penuh!
You know you've changed to high maintenance when you are no longer comfortable visiting trade center ala ITC or Blok M Square ini. Lebih nyaman mengitari mall seperti GI, PP, PS, Sency, Gancit atau PIM! Ke CBD cuma buat ke Carrefour, itu pun jaraanggg!
Selesai makan tanpa ada minat lihat-lihat di Blok M Square, saya baru menyadari ada Food Fighters Melawai begitu keluar dari Blok M Square. Letaknya persis berhadapan dengan square itu. Kalau begitu, mending makan di sini dari tadi!
Food Fighters ini semacam pecahan pedagang Pasar Santa, yang pindah atau ekspansi ke sini. Ada Mie Chino, Zucker Waffle, Kantin SD, Mexicana yang jual taco, dan lain-lain.
Beware, lokasinya nggak pakai AC, hanya kipas angin menempel di langit-langit dan bebas merokok! Untungnya saat kami ke sana, kondisinya tidak crowded. Sayangnya, hanya sedikit tenant yang buka, mungkin karena masih tahun baruan.
Lagi-lagi desain interiornya unik! Ada mural ala-ala pixelate di dinding, agak industrial dengan mendesain tong minyak menjadi meja.
Saya memesan wafel The Grinch dari Zucker Waffle sedangkan suami order chocolate waffle. Total harganya Rp66 ribu including 10% tax.
Rasanya enak banget! Warm crispy waffle dengan paduan es krim choco mint dan vanilla, ditambah topping mini M&M. Enak deh, sampai es krim lumer belepotan di tangan! Yummy! Sure will be any repeated orders in the future!
Saya kembali ke hotel dengan diantar bajaj. Kali ini argonya Rp20 ribu karena jarak tempuh lebih jauh dibandingkan dengan saat berangkat.
Hari kedua di hotel, saya kembali ke DS untuk makan siang. Sudah banyak tenant yang buka, termasuk Sumpit resto. Saya memesan nasi goreng lada hitam, lumpia Sumpit, dan iced lemon tea. Suami memesan nasi kung pao chicken, tahu goreng dengan bumbu spicy, dan iced lemon tea. Biaya yang kami habiskan sebesar Rp211 ribu.
Sumpit terkenal dengan big portion. Nasgor beef black pepper saya datang dengan ukuran jumbo. Sayangnya not well seasoned karena nggak sepedas atau spicy khas lada hitam yang saya ekspektasikan.
Lumpia Sumpit sih juara ya! Teksturnya seperti cakwe tetapi dense, not airy dan rasa udang banget! Nggak perlu dicocol saus sambal, cukup dengan mayonaise yang disajikan bersama lumpia.
Lucunya, pesanan suami, nasi kung pao chicken wujudnya so so. Nasinya imut, kung pao chicken-nya basah alias kebanyakan kuah. Lebih mirip ayam asam-manis ketimbang kung pao chicken yang hitam pekat, tidak berkuah kental, ada kacang mede, dan cabai kering.
Appetizer tahu goreng-nya malah big portion! Tahunya banyak, dipotong kecil persegi, dengan cacahan bawang putih goreng. Tahunya sih, bukan silky tofu. Jauh lah dari tahu lada garam Imperial Kitchen.
Selebihnya, waktu liburan dihabiskan di kamar hotel: nonton, tidur, makan, repeat! Namanya juga liburan, ya bermalas-malasan ria dong!
Monday, January 4, 2016
Staycation at The 1O1 Hotel Jakarta Sedayu Darmawangsa
Libur Tahun Baru lalu dihabiskan dengan staycation dua malam di Hotel 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa. Saya booking melalui Rajakamar dengan total Rp1,4 juta sudah include breakfast for two. Kamarnya tipe standard yang paling murah.
Sebelumnya, saya sudah booking pada Oktober 2015 dua malam di Artotel Thamrin seharga Rp1,5 juta melalui Traveloka apps. Herannya, semakin mendekati libur tahun baru, tarif kamarnya turun menjadi sekitar Rp600 ribuan sehingga dua malam totalnya Rp1,3 juta.
Saya kesel dong karena merasa dicurangi. Bukannya semakin mendekati hari H menginap, tarif menginap di hotel itu naik ya? Saya browsing hotel lagi, yang lebih kece fasilitas dan harganya. Saya ajukan refund ke Traveloka dan nggak sampai 7 hari kerja, dana saya dikembalikan utuh.
Hotel 1O1 JSD ini berlokasi di Darmawangsa Square, hotelnya menyatu dengan pusat belanja (atau pusat makanan ya?) ini. Saya tiba pukul 3 sore pada 1 Januari 2016. Hotel tampak padat, front desk cukup antri karena peak season.
Lobby hotel luas dan didesain modern minimalis dengan dominasi warna hijau Tosca khas 1O1. Lobby terlihat ramai karena banyak yang menunggu untuk check in.
Saya mengantri sekitar 10 menit. Resepsionis meminta deposit tunai Rp300 ribu atau open card dengan kartu kredit. Saya memilih open card karena cash-nya nggak cukup.
Saat order di Rajakamar, saya request: non smoking room, double bed, dan middle floor. Ternyata, resepsionis menyampaikan tidak ada kamar double bed yang tersedia, adanya twin bed. Padahal saya sudah konfirmasi ulang beberapa hari sebelumnya dan dinyatakan request saya bisa dipenuhi. Mereka beralasan hotel penuh dan permintaan bisa dipenuhi subject to availability. Kamar dengan twin bed bisa disulap menjadi double bed. Saya protes dong!
Kemudian resepsionis kontak melalui HT dengan house keeper. Dari yang saya dengar, ada satu kamar dengan double bed. Dia memberikan access card dengan nomor 1615. Saya girang karena tetap akan tidur di double bed.
Tiba di kamar, hmm.. memang sih kasurnya double bed, yang ternyata twin bed disatukan. Berasa dibohongi nih! Ada kejutan lain, kamar saya memiliki connecting door dengan kamar di sebelah! Hmm.. I think this is not on my request. Connecting door dipastikan terkunci sehingga tidak ada yang bisa mengakses kamar saya.
Sebelumnya, saya sudah booking pada Oktober 2015 dua malam di Artotel Thamrin seharga Rp1,5 juta melalui Traveloka apps. Herannya, semakin mendekati libur tahun baru, tarif kamarnya turun menjadi sekitar Rp600 ribuan sehingga dua malam totalnya Rp1,3 juta.
Saya kesel dong karena merasa dicurangi. Bukannya semakin mendekati hari H menginap, tarif menginap di hotel itu naik ya? Saya browsing hotel lagi, yang lebih kece fasilitas dan harganya. Saya ajukan refund ke Traveloka dan nggak sampai 7 hari kerja, dana saya dikembalikan utuh.
Hotel 1O1 JSD ini berlokasi di Darmawangsa Square, hotelnya menyatu dengan pusat belanja (atau pusat makanan ya?) ini. Saya tiba pukul 3 sore pada 1 Januari 2016. Hotel tampak padat, front desk cukup antri karena peak season.
Lobby hotel luas dan didesain modern minimalis dengan dominasi warna hijau Tosca khas 1O1. Lobby terlihat ramai karena banyak yang menunggu untuk check in.
Saya mengantri sekitar 10 menit. Resepsionis meminta deposit tunai Rp300 ribu atau open card dengan kartu kredit. Saya memilih open card karena cash-nya nggak cukup.
Saat order di Rajakamar, saya request: non smoking room, double bed, dan middle floor. Ternyata, resepsionis menyampaikan tidak ada kamar double bed yang tersedia, adanya twin bed. Padahal saya sudah konfirmasi ulang beberapa hari sebelumnya dan dinyatakan request saya bisa dipenuhi. Mereka beralasan hotel penuh dan permintaan bisa dipenuhi subject to availability. Kamar dengan twin bed bisa disulap menjadi double bed. Saya protes dong!
Kemudian resepsionis kontak melalui HT dengan house keeper. Dari yang saya dengar, ada satu kamar dengan double bed. Dia memberikan access card dengan nomor 1615. Saya girang karena tetap akan tidur di double bed.
Tiba di kamar, hmm.. memang sih kasurnya double bed, yang ternyata twin bed disatukan. Berasa dibohongi nih! Ada kejutan lain, kamar saya memiliki connecting door dengan kamar di sebelah! Hmm.. I think this is not on my request. Connecting door dipastikan terkunci sehingga tidak ada yang bisa mengakses kamar saya.
Well, kamar hotel ini cukup nyaman meskipun hanya ada dua bantal kepala dan dua throw pillow ukuran 45x45. Saya lebih suka hotel yang menyediakan lebih dari empat bantal di kasurnya.
Ada mini bar, water heater, kopi, teh, gula, creamer, complimentary mineral water dua botol, toileteris, hair dryer, handuk, closet, basin, dan shower merek TOTO. Colokan listrik terbilang cukup untuk gadget milik dua orang, ada di setiap sisi tempat tidur.
Ada mini bar, water heater, kopi, teh, gula, creamer, complimentary mineral water dua botol, toileteris, hair dryer, handuk, closet, basin, dan shower merek TOTO. Colokan listrik terbilang cukup untuk gadget milik dua orang, ada di setiap sisi tempat tidur.
Saya juga mendapatkan akses WiFi gratis dan quite speedy loh! WiFi bisa diakses di kamar, lobby hotel, dan 1O1 Cafe.
Sayangnya, kamar hotel tidak sound proof. Saya bisa mendengar jelas bunyi orang berjalan, berbicara, suara pintu ditutup, suara orang sedang plug in sesuatu ke colokan listrik, bahkan suara orang mengetuk pintu dari kamar di lantai atas kamar saya.
Tibalah saat sarapan. Sesi sarapan ini penting bagi saya dan suami untuk menilai hospitality dan kualitas hotel ini. Saya dan suami turun sarapan pukul 06.30 pagi karena khawatir restoran 1O1 Cafe yang terletak di lantai 1 akan crowded jika di atas pukul 7 pagi.
Sayangnya, kamar hotel tidak sound proof. Saya bisa mendengar jelas bunyi orang berjalan, berbicara, suara pintu ditutup, suara orang sedang plug in sesuatu ke colokan listrik, bahkan suara orang mengetuk pintu dari kamar di lantai atas kamar saya.
Tibalah saat sarapan. Sesi sarapan ini penting bagi saya dan suami untuk menilai hospitality dan kualitas hotel ini. Saya dan suami turun sarapan pukul 06.30 pagi karena khawatir restoran 1O1 Cafe yang terletak di lantai 1 akan crowded jika di atas pukul 7 pagi.
Ternyata, resto masih sepi dan hanya beberapa meja yang terisi. Menu sarapan sudah tersaji lengkap: omelete, bubur ayam, mie ayam, sereal, miso soup, salad bar, pasty and bread, baked beans, hashbrown, sosis, mie goreng, nasi goreng, dan lain-lain. Minumnya ada aneka jus, coffee, tea, yakult, dan yogurt.
Hari kedua, menu sarapan berganti, seperti vegetable clear soup, potato pom-pom, dan sosis ayam.
Rasa makanannya cukup enak. Sayangnya, hampir semua makanan disajikan dalam kondisi dingin kecuali miso soup, vegetable clear soup, omelete, dan baked beans. Sayang sekali padahal sudah disajikan di atas kompor elektronik, yang ternyata nggak bikin makanan hangat sama sekali.
Di lantai yang sama, terdapat Terraza Lounge dan kolam renang. Lounge ini konsep indoor dan outdoor, menawarkan aneka minuman beralkohol. Kolam renangnya swim-able sih, cuma nggak terlalu luas dan bukan infinity pool. Coba kolam renang diposisikan di lantai yang lebih tinggi, pasti akan lebih menarik view-nya.
Hari kedua, menu sarapan berganti, seperti vegetable clear soup, potato pom-pom, dan sosis ayam.
Rasa makanannya cukup enak. Sayangnya, hampir semua makanan disajikan dalam kondisi dingin kecuali miso soup, vegetable clear soup, omelete, dan baked beans. Sayang sekali padahal sudah disajikan di atas kompor elektronik, yang ternyata nggak bikin makanan hangat sama sekali.
Di lantai yang sama, terdapat Terraza Lounge dan kolam renang. Lounge ini konsep indoor dan outdoor, menawarkan aneka minuman beralkohol. Kolam renangnya swim-able sih, cuma nggak terlalu luas dan bukan infinity pool. Coba kolam renang diposisikan di lantai yang lebih tinggi, pasti akan lebih menarik view-nya.
Saya sempat ke Darmawangsa Square (DS) untuk makan. Akses langsung dari hotel melalui lobby utama ke ground floor DS dan 1O1 Cafe ke lantai 1 DS. Ada Ranch Market di DS sehingga nggak perlu khawatir kekurangan makanan dan minuman.
Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.
Overall, saya puas menginap di Hotel 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa ini. Worth the money I paid. Hanya perlu perbaikan kecil pada kamar yang belum sound proof dan kehangatan makanan sarapan.
Saat 1 Januari 2016, DS kosong dan sepi. Banyak tenant yang tutup dan hanya beberapa resto yang buka. Saya kehilangan minat karena sedikitnya opsi untuk makan di sini.
Overall, saya puas menginap di Hotel 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa ini. Worth the money I paid. Hanya perlu perbaikan kecil pada kamar yang belum sound proof dan kehangatan makanan sarapan.
Subscribe to:
Posts (Atom)















