Monday, August 31, 2015

Bloomberg TV Indonesia, tinggal cerita..


Sejak pekan lalu, mulai bermunculan blog yang membahas tentang hilangnya siaran Bloomberg TV Indonesia (BTVID) di beberapa paid TV. Bisa baca di sini dan ini. Herannya, mereka bisa mendapat informasi bahwa content provider spesialis ekonomi dan bisnis ini akan tutup. Spekulasi ini dipicu oleh eksodus anchor-anchor ternama dan sebagian besar (hampir 70%) awak redaksi. Padahal BTVID dikabarkan akan diakuisisi Grup Bosowa pada akhir tahun lalu. 

Pada Jumat (28/8), manajemen mewakili pemegang saham mayoritas (Recapital) memutuskan menutup dan menghentikan operasional BTVID. Content provider franchise dari Bloomberg L.P., New York ini resmi berhenti mengudara per 31 Agustus 2015.


*****

Gelombang PHK sudah dimulai pada 17 Juni 2015, sehari sebelum bulan Ramadhan. Sungguh, kado pahit menjelang bulan suci. Alasan PHK adalah perusahaan melakukan restrukturisasi, efisiensi jumlah pegawai karena operational expense tinggi sedangkan income sangat sedikit.

Siapa yang di-PHK? Yang masa kerja di bawah satu tahun, yang bergaji di bawah Rp10 juta, dan yang bergaji di atas Rp10 juta. 

Gelagat ketidakpastian masa depan perusahaan ini dirasakan pada Mei 2015 saat gaji bulanan dibayarkan dicicil sebanyak tiga kali. Bagi yang cepat menyadari pertanda buruk ini, segera mencari peluang baru. 

Akhirnya, perusahaan mengumumkan PHK untuk sebagian besar karyawan pada Juni 2015 dan berjanji membayar pesangon mulai akhir Juni. Pesangon pun skemanya dicicil, sodara-sodara!

Saya tidak akan menjelaskan secara detail prosesnya karena takutnya ada data dan informasi yang keliru. Proses pembayaran pesangon masih berjalan karena perusahaan belum membayarkan pesangon sepeser pun sejak PHK pada Juni 2015. 

Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang mendukung BTVID selama mengudara. Mohon maaf BTVID tidak bisa lagi berkontribusi kepada industri ini. Semoga selama mengudara, BTVID meninggalkan kesan yang baik.

Berkat kejadian ini, saya pun mengambil keputusan besar sepanjang karier saya di media. Saya memutuskan "gantung kartu pers" alias bekerja di corporate atau perusahaan non media. Saya mendapatkan kesempatan untuk menggali potensi sebagai Media & Investor Relations di suatu perusahaan jasa keuangan.

Saya merasa sudah cukup menimba pengalaman di dunia jurnalistik selama 5 tahun. Sayang nggak rasanya? Sayang banget melepas semua kesempatan dan privilege sebagai wartawan. Tetapi, jika ingin melangkah maju dan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik, you have to let go the past.

The truth is hard to swallow but don't cry, let's move on and go for the better opportunity!

*** Update ***
Pada 1 September 2015, pemegang saham mulai membayarkan pesangon sebagian karyawan yang di-PHK pada 17 Juni 2015. Pesangon yang dibayarkan belum full tetapi lebih baik daripada tidak ada pembayaran sama sekali.

*** Update ***
Pada 28-29 September 2015, pemegang saham telah melunasi pesangon sebagian karyawan yang di-PHK. Sebagian yang dicicil 9x dan 15x, juga mendapatkan akumulasi 3 bulan cicilan.

Tuesday, August 4, 2015

BigBang MADE WORLD TOUR


BigBang comeback! Rasanya excited banget saat mereka announced akan rilis album terbaru bertitle "MADE". Tentu penasaran juga dong, mereka ngadain world tour, seperti album sebelumnya "Alive" dan apa Indonesia masuk ke dalam list konser mereka.

Ternyata, Indonesia masuk dong! BB memilih ICE BSD sebagai venue konser pada 1 Agustus 2015. Saya setuju banget mereka konser di sana karena selain SICC di Sentul, hanya ICE yang memadai sebagai venue konser yang layak di Jabodetabek. Apalagi luas banget dan cocoklah menampung fans K-Pop boyband yang gak hanya seribu-dua ribu tapi puluhan ribu.

Tadinya saya niat mau beli tiket. Karena suatu hal dan nggak dapat izin suami, saya membatalkan beli tiket. Saya harus realistis karena ada kepentingan lain yang lebih mendesak. Saya menghibur diri dengan bilang "Gpp lah, yang penting udah pernah liat mereka sekali seumur hidup di konser Alive,"

22 Juli 2015, saya berulang tahun ke-28. As usual, suami udah kasih clue hadiah ulang tahun saya beberapa hari sebelumnya. Saya nggak inget persis pernah minta apa atau lagi butuh apa. Yang jelas saya mau dikadoin tas baru buat ke kantor baru. Tas akhirnya dibeliin belakangan karena ternyata hadiah ultah bukan tas.

Eng ing eeeenggg, suami menyodorkan amplop putih kecil kek amplop angpao kondangan. Saya buka dan isinya adalah selembar tiket MADE Live Tour BigBang!!! Terharu, tersipu, mesem-mesem dong! Nggak menyangka dikasih kado tiket BB padahal udah pasrah nggak bisa menonton mereka live lagi. Makasih suamiku sayang, :*



Hari H, saya dan suami kembali menginap di Pranaya Suites Hotel, yang terletak persis sebelahan dengan Teraskota. Ini juga beruntung suami jauh-jauh hari udah reservasi karena pas tanggal 22 saya coba booking melalui beragam online reservation, hasilnya kamar hotel sekitar BSD full booked! Ketauan bener diisi jamaah BB. Yang nekad go show, juga nggak kebagian kamar, adanya suite dengan rate semalam Rp1,2 juta.

Pranaya Suites mengalami improvement sejak terakhir saya menginap pada Mei lalu. Sepertinya manajemen membaca review saya di TripAdvisor. Saat sarapan, ada petugas yang greet dan menanyakan nomor kamar. Menunya lebih variatif dan rasanya enak. Omelette station tetap nggak ada orang tetapi ada scrambled egg siap disajikan. Suka-suka deh mau ambil seraup, hehehe. Piring-piring juga cepat dibersihkan dari meja. Top notch deh Pranaya Suites!

Back to the concert, saya baru menuju ICE sekitar pukul 6 sore karena konser dimulai pukul 06.30 PM (sesuai tiket). Tiba di sana, saya agak heran karena sepi atribut konser BB. Suami sampai bilang, salah venue nggak? Karena sejak di parkiran, tidak ada penunjuk arah atau instruksi apapun terkait konser BB. Beda banget dengan konser Katy Perry pada Mei lalu.

Tiba di area hall, saya lebih bengong lagi. Saya mengira konsernya berada di lokasi yang sama dengan Katy Perry, yakni hall 1-3, ternyata hall 10! Jalan kaki lumayan bener mengitari ICE. Ternyata, hall 9 ada bazaar makanan dan penuh dengan foodtruck. Saya dan suami masuk ke sana aja dong dan ternyata keramaian konser baru terlihat: antrian cewek-cewek beratribut BB.

Saya cuek makan dulu, penasaran juga dengan makanan foodtruck. Sayangnya, banyak foodtruck yang sold out. Tetapi, saya makan beef teriyaki with rice, lupa nama foodtruck-nya. Seporsi 50 ribu ajah, mahal nggak sih? Atau emang udah standar foodtruck?



Para penonton berbaris berdasarkan kelas menonton, mereka mengantri masuk ke venue. Saya sih masuk belakangan aja dan nggak ambisi nonton terdepan dari ORANGE area. Saya sih yang penting nggak jauh dari pintu keluar. 

Trik saya setiap nonton konser, segera keluar setelah encore pertama. Ini selalu sukses nggak bikin terjebak berjam-jam mengantri keluar venue maupun parkiran. Ada yang dikorbankan tetapi rasanya worth it.

BigBang mengawali konser dengan potongan video yang seolah-olah mereka mau pergi party dan kejar-kejaran dengan dua cewek freak. Bang Bang Bang jadi lagu pertama yang dinyanyikan, disusul Tonight, dan Stupid Liar.



Saya sih nggak menghapalkan setlist BB apa aja malam itu. Buat lengkapnya, berita Detik Kpop cukup lengkap. Saya inget banget kalau Seungri talkative dan Daesung konyol, sama konyolnya dengan si mangnae. Idola saya, TOP, just being him, stay cool. Suaranya itu loh yang bikin merinding, hehehe. GD dan Taeyang, they were also cool lah!

Jika dibandingkan dengan konser "Alive Tour", jelas jauh beda dari kualitas sound dan dekor panggung. Kalau "MADE", panggung dibuat memanjang biasa, nggak ada panggung kecil yang menjorok ke tengah penonton. Para ultimate VIPS ngertilah jenis panggung yang dimaksud. Yang bikin beda itu, panggung hidrolik naik-turun, patung angel kayak di MV Bae Bae, dan kaca-kaca buat lagu Loser.







I was so overjoyed when they sang "Fantastic Baby' before encore. It's one of my favorite song. Boom shakalaka! 

Thank you hubby for one of the most memorable birthday gift, :*









Monday, August 3, 2015

Weekend getaway: Lembang floating market



Saat libur lebaran bulan lalu, saya mengajak mertua & adik-adik ipar berlibur ke Bandung untuk dua malam. 

Kami berangkat pada lebaran H+3 dengan mobil Avanza sewaan, sekitar pukul 12 siang. Jalanan cukup lancar, tidak semacet yang diperkirakan. Kepadatan lalin terasa begitu exit tol Pasteur, wajar sih ya. 

Kami menginap di Vio Hotel, Jalan Westhoff, Bandung. Lokasinya strategis, dari tol Pasteur lurus aja menuju Jalan Sukajadi, tetapi tidak melalui jembatan layang Pasopati. Dari hotel, tidak terlalu jauh ke PVJ, Cihampelas Walk, dan Pasir Kaliki. 

Berbekal wazed, dari Alun-Alun Bandung menuju Lembang floating market hanya kurang dari satu jam. Kami tiba di sana pukul 09.00 pagi dan parkiran hampir penuh. Ternyata floating market buka sejak pukul 08.00 pagi. 

Tiket masuk Rp15.000 per orang sedangkan biaya masuk mobil Rp10.000. Tiket masuk termasuk segelas minuman dingin atau hangat. 

Sebelum masuk, lebih baik menukarkan uang dengan koin, yang digunakan sebagai alat pembayaran di area floating market. Koinnya terdiri dari nominal Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000. Selain di pintu masuk, di dalam area juga terdapat beberapa loket penukaran koin dengan antrian yang masih acceptable. 

Masuk ke area Lembang floating market, terdapat kolam buatan luas sehingga kawasan ini menyerupai letter O. Pengunjung akan diajak mengitari area taman, saung, dan kandang angsa, sebelum memasuki area food court. 

Sebagai orang yang pernah melihat langsung floating market di Bangkok, saya penasaran dong, mana sih yang mengambang? Karena di tengah kolam enggak ada apa-apa yang mengapung. Ternyata, yang mengapung adalah kios-kios penjual makanan dan minuman. Jadi, kiosnya berupa perahu kecil yang mengapung di pinggir area tempat makan. 

Harganya? Sangat terjangkau dan masih realistis, mengingat umumnya harga makanan di kawasan wisata suka enggak wajar. 

Saya jajan cireng isi oncom, harganya Rp10.000 dapat lima buah cireng. Kangen dengan lumpia basah, yang biasa dicicipi di gerbang kampus Unpad Jatinangor, di sana dijual Rp10.000 seporsi. Ingin minum yang seger-seger tapi ngga overly sweet? Ada air tebu segelas Rp10.000. 




Makanan apa aja? Banyak dan beragam! Rasanya ingin beli semua! Yang jelas jajanan khas Jawa Barat ya. Gila ya, jauh-jauh ke Lembang buat jajan dan banyak peminatnya! 

Selain wisata kuliner, kita bisa main air di sini. Maksudnya ada beberapa wahana terapung di kolam floating market, seperti canoe-ing, bebek-bebekan yang diayuh pake kaki, dan lainnya. Harga tiket mulai dari Rp50.000 per wahana dan bayarnya pakai koin juga ya. 

Kami berada di sana sekitar 2,5 jam, pulangnya menjelang jam makan siang. Pas turun, macet banget! Macetnya dari Sukajadi untuk menuju Lembang. Kami pun juga tersendat sejak di kampus UPI Bandung sampai Sukajadi. 

Tips ke Lembang floating market: 
berangkat pagi ketimbang jelang makan siang, pasti terjebak macet dan kesulitan dapat parkir. Kosongkan perut karena banyak jajanan enak dengan harga terjangkau.

Wednesday, July 8, 2015

Review: MUA Luxe Velvet Lip Lacquer



Setelah era NYX lip cream berlalu, muncul produk lip lacquer dengan tektur selembut velvet dan hasil warna matte. Berkat follow Instagram @dejoymakeup, teracuni untuk membeli produk yang dijual seharga Rp138 ribu, belum termasuk ongkir dari Batam Rp25 ribu. Ternyata MUA Luxe ini dijual lebih murah di Mooishe seharga Rp130 ribu dan dikirim dari Jakarta. Talking about the cost efficiency!

Saya memilih warna merah dengan shade reckless. Pengen banget punya lipstick warna merah yang menyala. Dulu sempat punya, merek Revlon tapi tentu udah nggak layak pakai. Saya pesan Kamis, dikirim Jumat, dan saya terima Senin lalu (6/7).

Lip lacquer datang dilapisi dengan bubble wrap dan kemasannya sederhana. Saat dibuka, tidak tercium wangi khas chemical. Langsung disapukan ke bibir dan teksturnya lembut seperti beludru. Tidak susah diaplikasikan dengan aplikator, terutama pada lekukan bibir. Warnanya pigmented, cepat sekali kering tanpa membuat bibir kering pecah-pecah. 



Daya tahan sekitar 2-3 jam kalau tidak makan-minum. Ketika saya minum, lip lacquer menempel di gelas seperti serpihan kecil yang kering. Tentu setelah itu harus retouch supaya bibir kembali merah menyala.

Walau baru pakai sekali, after effect pakai lip lacquer ini tidak bikin bibir kering, berbeda dibandingkan dengan NYX lip cream. Selain itu, mudah dibersihkan. Cukup usap makeup remover L'Oreal, bibir langsung bersih.




Friday, June 12, 2015

Review: Ngojek Asik GO-JEK & GrabBike


Ojek udah jadi kebutuhan jika beraktivitas di Ibukota, terutama kalau in a rush dan mendadak. Cuma part tidak menyenangkan kalau ngojek itu adalah tawar-menawar dengan abang ojeknya. 

Abang ojek sekitar CBD Sudirman-Thamrin-Kuningan itu pricey, harganya di atas rata-rata ojek pinggiran atau sekitar komplek perumahaan. Saat masih tinggal di Benhil, saya bayar ongkos ojek PP Rp20 ribu untuk rute The City Tower, Bundaran HI ke rusun Benhil. 

Sejak tinggal di Ciledug, saya cukup membayar setengahnya dari Jl. Inpres menuju rumah. Bahkan, kata mertua saya dikasih Rp7 ribu juga mau. Cuma saya nggak mau ribet dengan uang receh atau kembalian.

GO-JEK
Berkat social media, saya kenal dua aplikasi yang mengelola jasa ojek, yakni GO-JEK dan GrabBike. Awalnya saya install GO-JEK gara-gara postingan blog teman saya, Icha. Saya bahkan pakai referral code dia untuk free credit GO-JEK Rp50 ribu.

Saya akhirnya coba pakai GO-JEK berminggu-minggu setelahnya. Saya perlu ke Senayan City dari Sevel Teluk Betung saat rush hour pukul 5 sore. Saya perlu menunggu abang GO-JEK hampir setengah jam karena dia terjebak macet di Tanah Abang. Padahal di sekitar Sevel, beberapa abang GO-JEK nongkrong cuma tidak berkenan mengambil order saya. 

Tarif ojek dikenai Rp33 ribu dan otomatis terpotong dari credit GO-JEK. Saya memilih opsi credit ketimbang bayar tunai. Saat abangnya tiba, saya sempat menanyai dia, apa dia ojek yang menunggu saya. Abang GO-JEK mudah diidentifikasi dengan helm warna hijau-hitam dan jaket serupa. Dia tidak menawari masker dan hair cap, tapi buat saya ngga masalah sih.

Terhitung saya sudah tiga kali enam kali menggunakan jasa GO-JEK untuk mobilitas sekitar CBD, yang kalau naik busway masih perlu jalan kaki.

PROs:
- Tarif ojeknya terjangkau, tarif terendah Rp25 ribu
- Punya empat layanan: kurir, transport, GO-FOOD, dan shopping
- So far abang ojeknya riding safely, ramah, tahu jalan-jalan tikus bebas macet
- Sekitaran CBD, banyak abang ojeknya
- Cashless! GO-JEK menerima pembayaran tunai dan credit, yang di-topup macam e-money
- Abang ojek dilengkapi identitas nama dan foto
- Free credit buat first time user. Input kode referral saya ya: 542585643

CONs:
- GPS kurang akurat, kadang saya perlu menggeser sendiri kursor GPS karena GPS lama sekali menemukan lokasi yang saya tuju
- Kadang perlu lama menunggu notifikasi driver yang menerima orderan
- Abang GO-JEK ada yang ngga pake foto di notifikasi, ngga ada info nomor plat motor juga
- Rush hour (16.00-18.00) tarif minimal Rp35 ribu

GrabBike
Mengekor kesuksesan GO-JEK, GrabTaxi pun meluncurkan lini bisnis GrabBike yang 
operasionalnya persis seperti GO-JEK. Bahkan kemiripan sampai ke signature logo and colors: hijau-hitam. 

GrabBike hadir dengan promo ngga tanggung-tanggung, gratis ngojek dari sekitar Setiabudi dan Kuningan! Saya pun memanfaatkan promo gratis ini saat berkunjung ke kantor majalah CLEO di Kuningan, berangkatnya pake GO-JEK, pulangnya gratis pakai GrabBike.

Kualitasnya sama dengan GO-JEK. Abangnya berjaket dan berhelm logo GrabBike. Namanya ngojek tetapi beda company aja.

Begitu masa gratisan selesai, GrabBike kembali promo goceng ke manapun. Cukup bayar Rp5 ribu untuk ke seluruh penjuru Jakarta. Tetapi, saya nggak tega bayar goceng ke abang ojek, jadilah saya bayar Rp10 ribu-Rp15 ribu tergantung jarak dan manner abangnya.

Saat ini, promo GrabBike goceng masih berlaku hingga 17 Juni mendatang. GO-JEK pun ngga mau kalah dengan kasih flat rate semua layanan Rp10 ribu, ngojek ke tujuan maksimal 25KM.

PROs:
- GPS sangat akurat, begitu presisi dan cepat loading-nya
- Abang GrabBike juga mulai banyak beredar di CBD
- Bisa kasih tips ke abang ojek
- Suka kasih promo
- Abang GrabBike dilengkapi identitas nama, foto, dan nomor plat motor

CONs:
- Bayarnya cash
- Tarifnya lebih mahal, di atas GO-JEK
- Hanya service transport

Kedua aplikasi ini sangat berguna dan bisa di-download via iOs dan Android. Saya mendukung bisnis transportasi yang memudahkan mobilitas orang-orang.

Bali Green Run: The 13K that Devastated Us

"Lari marathon 13 kilo tanpa persiapan maksimal, you just chose to kill yourself"
Akhir bulan lalu, kami nekad ikut event lari marathon yang diselenggarakan Astra International Tbk. Soalnya event Bali Green Run, Astra Green Lifestyle berbarengan dengan trip kami di Bali. Sekalian aja, having fun lari-larian di Bali.

Marathon ini berlangsung di Elephant Safari Park & Lodge, Desa taro, Tegallalang, Ubud, Bali. Awalnya kami berpikir, seluas apa sih taman gajah ini sehingga rute larinya sampai 13 km?

Selain 13K, juga ada lari rute 6K yang mungkin lebih sesuai dengan kami. Sayang, keburu sold out dan kebagiannya yang rute panjang.

Berangkatlah kami dari Jakarta menuju Bali lengkap dengan sepatu olahraga, pakaian, dan handuk kecil. Meskipun ngga ada persiapan untuk ikut lari 13 km.

Minggu (31/5) pukul 06.00 pagi, kami dijemput driver Bli Wayan, driver baik hati yang baru didapat pukul 8 semalam. Bawa mobilnya ngebut karena jalanan masih sepi.

Pillow face sebelum lari 13K

Kami tiba di Elephant Safari Park & Lodge 1,5 jam kemudian. Sebenarnya, panitia juga menyediakan shuttle tetapi meeting point-nya di Sanur dan Ubud, cukup jauh dari hotel kami di Kuta. Kami memilih menyewa mobil supaya lebih leluasa singgah ke mana aja.

Marathon ngga lengkap tanpa racepack. Kami diberi racepack berisi kaos Bali Green Run 2015 dari Reebok, chip pencatatan waktu ChampionChip, buku panduan Lomba, botol Minum 700ml, dan souvenir dari sponsor lain. Para pelari juga dilindungi oleh asuransi Astra Life.

Ini adalah event lari pertama yang saya dan suami ikuti. Suami sebenarnya sporty banget tetapi lama-lama ketularan malesnya saya, hehehe. 

Kami mulai lari pukul 08.10, awalnya sih lari beneran selama beberapa menit. Lama-lama berakhir dengan jalan kaki, hahaha.

Sepanjang rute lomba 13,3K, medannya amit-amit bener karena bukan merupakan track yang lurus mulus kayak jalan tol Cikapali. Ini mah lari lintas alam karena harus naik-turun bukit, jalan di pematang sawah, masuk ke hutan, capek deh!

Beberapa kali saya ingin menyerah dan diangkut mobil medis saja. Tetapi, suami tercinta terus menyemangati bahwa kami mampu mencapai garis finis. Bahkan dia menggandeng sekaligus menyeret saya saat melewati medan tanjakan curam, hehehe. He's a very supportive husband :")

Water station pertama terletak menuju kilometer ke-3. Panitia menyediakan air mineral dan Pocari Sweat dalam gelas-gelas kecil. Segelas ngga cukup untuk minuman isotonik, boleh nambah lho!

Serunya, rute yang kami tempuh menawarkan pengalaman lari yang tidak biasa. Kami melewati beberapa lokasi khas setempat dan disambut oleh atraksi warga sana.

Ada Banjar Taro Kaja, Pura Agung Gunung Raung, Banjar Puakan, Hutan Binaan Astra, Pura Dalem, Banjar Pakuseba, dan obyek wisata Lembu Putih. 


Tetapi, karena takut tertinggal dan disalip peserta lain, saya nggak foto-foto selama lari, eh jalan kaki. 

Akhirnya, kami mencapai garis finis setelah berjalan kaki selama 3 jam 7 menit! What a long long lame lame journey! Bahkan, kami papasan dengan peserta yang udah selesai. Kami aja belum capai finis, mereka udah santai pulang.

Sampai finis, untung masih ada panitia. Saya kira mereka udah mulai beresin tenda, hahaha. Saya tetap disambut meriah, disalami mas-mas bule nan jangkung, dikasih air minum, pisang, dan dikalungi medali. YAY!!!!

YAY! Berhasil, berhasil, HOREEEE!

Suami dan medali perdana

I nailed it!
Setelah istirahat cukup, maksudnya menstabilkan lutut yang gemetaran, betis yang ngilu, dan paha yang tegang, kami menuju Elephant Safari Park & Lodge untuk santap siang.

Elephant Safari Park Lodge adalah salah satu tujuan wisata edukasi di Ubud. Suasananya hijau dan rimbun karena banyak pohon. Kami pun berjumpa gajah yang sedang mengangkut pengunjung di punggungnya. Mereka berjalan menyusuri kolam besar atau di sekitar taman.

Kami bisa foto bareng gajah meskipun tidak beli tiket untuk elephant ride. Soalnya HTM lumayan, sekitar Rp200ribuan untuk safari ride. 


Kami makan siang di Park Restaurants, yang berdesain seperti rumah panggung. Konsepnya buffet, sayangnya less appetizing bagi saya. Menunya ayam, ikan, sup, salad, nggak ada daging sapinya. Saya cuma makan sedikit karena menunya nggak menarik itu. 




Overall, event Bali Green Run as part of Astra Green Lifestyle sangat menyenangkan. Meskipun oleh-olehnya rasa pegal luar biasa. Hats off to Astra, Astra Life, Reebok, Planet Sports, dan Pandara Sports atas event melelahkan ini.

Saya semakin sayang suami karena dia sosok yang tidak mudah menyerah, kooperatif, suportif, dan optimistis. Tanpa suami, saya belum tentu finis 13,3K karena baru 3 km, saya pengen nyerah.


Wednesday, June 10, 2015

Munching time in Bali


Setiap jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, saya biasanya mengusahakan mencicipi kuliner khas wilayah tersebut. Meskipun kadang main aman juga, seperti makan di well known fast food chains yang tentu halal. 

Malam pertama di Bali, kami kelaparan dan begitu melihat sign board KFC di depan Kutabex, Pantai Kuta langsung masuk ke sana. Padahal KFC terdekat ada di sekitar Kuta Square, tidak jauh dari hotel. 

Menu andalan saya di KFC adalah Oriental Bento yang murmer 10 ribuan aja. Bukan hanya murah, tetapi enak banget nasi dan potongan boneless chicken bersaus oriental. Suami biasanya pesan paket ayam, nasi, dan soft drink.

What's for dessert? Ternyata di depan KFC ada gerobak atau mini stall ice cream sandwich. Namanya Masterr Singapore Ice Cream. Padahal selama ini SG identik dengan es potong diselipin di selembar roti tawar.

Ada dua size, small size sekitar Rp17 ribu sedangkan large size Rp27 ribu. Yang small itu bite size banget, sekali makan langsung hap! Saya pilih yang large dengan harapan bisa berbagi dengan suami.

Saya pesan rasa double chocolate dan datanglah ice cream sandwich padat dengan lapisan es krim coklat cukup tebal. Sayang, cookies-nya nggak berasa coklat, just regular cookies rasa vanilla. Padahal double chocolate katanya. 



Rasa es krim coklatnya juga biasa, tidak terlalu istimewa tetapi ngga bikin gigi ngilu saat digigit. Variasi rasanya lumayan banyak tetapi untuk bite size tidak semua flavor tersedia. 

Hari gini, gak ke Bali namanya kalau belum menyantap nasi pedas. Tentu yang terkenal banget adalah nasi pedas Ibu Andika. Tahun lalu, kami sudah pernah mencoba nasi pedas Ibu ini di kios Patih Jelantik. Bahkan, sempat bersua beberapa seleb yang juga makan di sana.

Buka apps Waze, ternyata lokasi nasi pedas Ibu Andika tidak jauh dari hotel. Tampaknya bisa dijangkau berjalan kaki. 

Tetapi, di tengah jalan kami melihat ada warung nasi pedas Ibu Hanif. Kok familiar ya namanya. Suami pun mengusulkan untuk mencoba makan di sana, keburu laper dan masih perlu jalan lagi untuk ke bu Andika.

Lokasinya di pelataran toko yang sudah tutup di Pasar Kuta, persis di seberang Minimart, pojokan jalan Raya Kuta. 



Menunya mirip warteg, tinggal pilih mana yang suka. Saya memilih tumis kangkung, sambal goreng ati-kentang, dan telur balado. Untuk menu tersebut, saya hanya membayar Rp13 ribu. 

Makan berdua dengan suami ditambah dua teh botol dan kerupuk, sekitar Rp30 ribuan. Mursidah bener, cyin!

Rasanya endeuuss dan pedasnya manusiawi untuk lidah orang Minang! Sayur dan lauk-pauknya terasa fresh dan bumbunya pas. 

Lihat review lain nasi pedas Ibu Hanif di CumiLebay dan Aline.



Saat jalan-jalan seharian di Bali Timur, saya sempat bingung nyari tempat makan siang. Atas rekomendasi driver, kami diantar ke Balissa Bar & Restaurant yang terletak di jalan raya Pantai Candidasa.

Well, harganya standar lokasi wisata sih, agak di atas harga normal. Seporsi nasi campur dan nasi goreng ayam harganya Rp40 ribuan. Ice lemon tea sekitar Rp20 ribuan. Pokoknya, kami menghabiskan sekitar Rp170 ribuan makan siang di sini, tanpa dessert.

Saat di sana, hanya kami tamu domestik yang santap siang. Selebihnya adalah turis bule. Untungnya pelayannya ramah dan sempat basa-basi bertanya asal daerah kami.

Nasi campur datang tanpa sate lilit, kecewa sih. Soalnya nasi campur identik dengan sate lilit. Sambal matahnya enak, fresh banget, tetapi porsi sambalnya sedikit. Kemudian ada potongan tahu bergulai, eh ternyata itu adalah potongan ikan. Mbuh ikan apaan, saya ngga doyan.



Makan masakan Sunda di Bali? Silahkan datang ke Pawon Pasundan, yang berlokasi di Jl. Kediri, Tuban, Kuta. Lagi-lagi atas rekomendasi driver Bapak Ngurah. Beliau bilang kalau masakan Sunda Pawon Pasundan beda dari yang lain. Sambalnya uenak tenan!





Kami pun memesan paket nasi timbel berlauk empal daging dan ayam seharga Rp40 ribuan. Datanglah sekeranjang nasi timbel dalam gulungan daun pisang, empal daging, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Sambalnya disajikan dalam piring kecil, porsinya melimpah, jadi nggak khawatir kehabisan sambal. Nasi timbel ngga lengkap tanpa sayur asem seporsi mangkuk kecil. 

Saat dicicipi, rasanya segeerrr! Semuanya terasa pas, baru kali ini makan sayur asem restoran yang enak menyegarkan. Tentu dong, sayur asem buatan mama tetap nomor satu.



Minumnya pesan teh manis hangat sedangkan dessert pisang bakar. Pisang bakarnya juga enak, pisangnya dengan tingkat kematangan pas, lembut, dan disiram gula merah cair. 



Makan berdua cukup Rp130 ribuan aja, bandingkan dengan makan siang di kawasan wisata siangnya.

Malam terakhir di Bali, sehabis Balinese massage di Smart Spa & Massage, Kuta, saya jajan satu scoop chocomint gelato seharga Rp15 ribu. Lebih murah dibandingkan pedagang yang berjualan persis di pantai Kuta Rp20 ribu per scoop.