Wednesday, March 23, 2016

Anniversary Trip to Yogyakarta

Saya dan suami berencana merayakan wedding anniversary ke-3 dengan berlibur. Tahun lalu, kami tidak bisa cuti karena rekan kerja saya sudah cuti duluan. 

Awalnya, kami berencana menginap di Padma Hotel, Bandung untuk dua malam. Tidak apa-apa hotelnya mahal, cost transportasi lebih murah, sesekali boleh dong.

Jelang pergantian tahun, saya iseng browsing hotel dan pesawat di aplikasi Traveloka. Saya menemukan tiket pesawat ke Yogya yang terbilang murah. Suami spontan bilang, kenapa ngga ke Yogya? Kan murah-murah tuh di sana.

Saya pun langsung booking tiket pesawat PP CGK-JOG untuk dua orang senilai Rp1,4 juta. Setelah membandingkan harga dan review di Traveloka, Rajakamar, Nusatrip, dan Pegi-pegi, jatuhlah pilihan pada Neo Hotel Malioboro.

Kami menghabiskan biaya hotel + pesawat sebesar Rp2,7 juta, jauh di bawah biaya menginap dua malam di Padma Hotel, Bandung.

Tidak sampai tiga bulan kemudian, kami pun berangkat menuju Yogya. Cukup unik karena pertama kalinya kami pergi ke Yogya berdua. Selama ini, perginya masing-masing dan urusan kerjaan.

Saya baru dua kali mengunjungi Yogya. Pertama kali saat perpisahan SMA pada 2005 sedangkan trip berikutnya pada akhir 2014. Itu adalah undangan liputan perayaan HUT JNE.

Seperti yang saya jelaskan di post sebelumnya, kami traveling ke Yogya nggak ngoyo, santai tanpa bergantung pada itinerary. Namanya juga wedding anniversary trip, quality time bareng pasangan yang menjadi prioritas.

Cuaca Yogya lagi mirip Jakarta, lagi musim hujan yang unpredictable. Paginya hujan, siangnya panas, jelang malam hujan lagi. Cuaca seperti ini tepatnya kelonan ya, cuaca mendukung abis.

Selama empat hari ke Yogya, kami menghabiskan waktu di sekitar Malioboro, Keraton, Taman Sari, dan Alun-alun Kidul. Nggak pengen ke candi-candi karena sudah pernah berkunjung sebelumnya.

Kami ke Alun-alun Kidul karena penasaran dengan becak berlampu warna-warni. Setelah jalan sore ke Keraton dan shalat di masjid dekat Alun-Alun Lor, kami menyewa becak Rp20 ribu untuk diantar ke sana.

Di Alun-alun Kidul sudah banyak becak parkir mengitari alun-alun. Belum lagi angkringan dan pedagang lainnya. Setelah santap malam yang hanya Rp36 ribu untuk seporsi nasi goreng magelangan, mie goreng jawa, dan dua gelas teh manis hangat, kami siap menjajal becak berlampu.

Mas-masnya buka harga Rp40 ribu untuk satu putaran, nggak bisa ditawar. Yo wes lah, bayar aja. Yang penting bisa ngerasin mengayuh becak hits se-Yogya.




Ternyata Malioboro belum berubah banyak. Masih banyak tukang becak yang menawarkan becak kisaran Rp5 ribu hingga Rp10 ribu ke lokasi bakpia dan Dagadu. Pada 2005 silam, saya ditawari naik becak cukup Rp2 ribu aja.

Saya sempat mendatangi Museum Benteng Vredeburg, yang berseberangan dengan Gedung Agung Yogyakarta atau dikenal juga sebagai Istana Kepresidenan. Cukup bayar tiket Rp2 ribu per orang, saya melihat-lihat diorama yang terawat baik, yang mengilustrasikan peristiwa bersejarah di Indonesia.








Setelah dari sana, kami menuju Keraton dan Taman Sari dengan becak. Tukang becak memberi harga Rp20 ribu dan nggak mau kurang dari itu untuk kedua lokasi tersebut.

Tiba di Keraton, dia berpesan supaya kami tidak berlama-lama. Hih, sorry ya. Ini kan risiko situ mengangkut kami. Kami membayar Rp5 ribu untuk tiket masuk per orang dan Rp1 ribu untuk handphone berkamera.





Saya sempat menyodorkan KTP karena dikira turis Malaysia atau Singapore. Kayaknya mata sipit suami menjadi pemicu, hehehe.

Siang itu, Keraton cukup ramai. Saya hanya ingin menuntaskan rasa penasaran. Kami hanya 30 menit di sana karena agak membosankan. Pertunjukan wayang kurang menarik karena berbahasa Jawa.

Setelah itu, tukang becak itu bertanya, mau ke Taman Sari lewat depan atau belakang? Kalau lewat belakang, bisa lihat lukisan dulu. Suami setuju untuk lewat belakang.

Pintu belakang itu ternyata masuk ke gang rumah warga, tidak jauh dari pintu gerbang depan. Kami kemudian diturunkan di sebuah rumah yang ternyata milik seorang pelukis.

Sialan, dikerjain nih! Kami hanya lihat-lihat sebentar dan segera bergegas ke Taman Sari. Ternyata, tukang becak licik ini sudah menyiapkan orang lain untuk mengantarkan kami ke pintu belakang Taman Sari, yang tidak sampai 5 menit berjalan kaki dari rumah si pelukis.

Orang lain ini bisa disebut pemandu wisata liar, yang terpaksa kami ikuti karena kelicikan si tukang becak ini. Kami nggak bilang mau untuk jasa si bapak guide ini. Kami dijebak sama si tukang becak!

Si bapak guide liar ini akhirnya dikerahkan sebagai juru foto, yang untungnya has good eye for photography. Kami juga nggak lama-lama di sana karena mengejar flight pulang. Saya akhirnya menyelipkan Rp20 ribu ke tangan si bapak guide ini.

Ketika mau pulang, dongkol sekali dengan tukang becak licik ini. Tadinya berniat akan ngasih lebih kalau dia mau antarkan sampai hotel. Gara-gara perilaku curangnya, kami hanya minta diantarkan kembali ke samping Gedung Agung, Maliboro dan saya kasih Rp25 ribu. Dia merengek minta dikasih lebih, saya lebih galak bilang itu udah dilebihin dari Rp20 ribu.

Coba ya dia nggak bertingkah, rejeki dia mengantarkan saya ke hotel nggak akan hilang. Akibatnya, dia nggak dapat banyak juga kan karena curang? Minta aja sana bagian dari si guide liar.




Oleh-oleh
Untuk membeli oleh-oleh, tujuan utama kami adalah Mirota atau yang sekarang bernama Hamzah Batik di ujung Jalan Malioboro. Konsepnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan Krisna, Bali. 

Sepanjang Malioboro, tentu sudah hafal, banyak pedagang yang berjualan barang-barang dengan harga terjangkau. Saya pakai jasa tukang becak untuk mengantarkan ke Bakpia 99, yang pabriknya sama dengan Bakpia 23. Dari Jalan Dagen ke Bakpia 99 dan antar balik ke hotel, saya bayar Rp20 ribu.

Sekotak bakpia diharga Rp40 ribu isi 20 pieces. Kerupuk-kerupukan harganya mulai dari Rp30 ribu. Mahal sih untuk ukuran Yogya yang dikenal murmer. Mungkin saya harus belanja ke Pasar Beringharjo.

Kuliner
Yogya surganya kuliner murah! Selain harga makanan room service hotel yang terjangkau, gudeg dan angkringannya sangat ramah dompet.

Saya dan suami sudah bertekad akan menikmati gudeg sepuas-puasnya. Jelang makan siang, browsing lokasi Gudeg Yu Djum di Dagen, setelah Malioboro Mall. Harga seporsi nasi gudeg plus krecek dan telor hanya Rp10 ribu. 



Saya lebih suka Gudeg Pejompongan karena gudegnya basah dan dikasih sambel. Menurut saya yang asli Minang, Gudeg Yu Djum ini kemanisan. Tetapi, kami makan siang gudeg ini dua hari berturut-turut.

Malam hari kami berburu angkringan. Tanpa googling dulu, kami jalan menyusuri Malioboro, dikira akan banyak angkringan. Ternyata yang ada lesehan seafood yang nggak Yogya banget. Kami end up makan di Pizza Hut, Malioboro Mall.

Malam berikutnya dengan persiapan matang, kami jalan kaki ke arah yang berlawanan, menyebrangi rel kereta api stasiun Tugu, ke arah Jl Margo Utomo. Kami menuju angkringan Kopi Jos Lik Man, yang rave di blog-blog.

Di sekitar sana, banyak tenda angkringan di pinggir jalan. Kami telusuri satu-satu di Jl. Wongsodirjan, setelah lewati rel kereta belok kiri. Tibalah di depan angkringan dengan spanduk bertuliskan angkringan Kopi Jos Lik Man.

Saya lupa harga makanannya, yang jelas makan berdua plus teh manis panas hanya Rp25 ribu. Empat nasi kucing, enam gorengan, dan tiga tusuk sate telur dan bakso.




Hari terakhir di Yogya, kami makan siang di Kedai Angkringan Margo Mulyo, sepertinya satu-satunya kedai makan yang buka siang hari di Malioboro. Letaknya sebelum Mirota (Hamzah Batik) dan ketutupan pedagang di depannya.






Sempat mengira makan di sini akan mahal karena lokasinya di kawasan wisata. Dengan menu yang tidak jauh berbeda dari angkringan Kopi Jos Lik Man, makan berdua hanya Rp42 ribu dengan minum es susu coklat dan Nutrisari dingin.


***

Kami yakin suatu hari akan kembali ke Yogyakarta, dengan itinerary lebih serius.


No comments:

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah mampir dan membaca. Silakan tinggalkan komentar pada kolom comment di bawah. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus.